25/11/11

Negeri Tak Bertuan


 Sesungguhnya di negeri kami
berlimpah susu dan madu
namun mengapa kami ditimpakan
kemiskinan
dan kemelaratan

kami serupa janin
yang lahir premature
tak  tahu di mana letak
puting susu ibu

lalu datang para hidung belang
merebutnya dari mulut kami
dan kami pun tumbuh akrab
dengan gisi buruk
dan busung lapar

sungguh lalim
dan kejam  raja kami
kebijaksanaan telah menguap dari mahkotanya
tertinggal nafsu birahi kian bergejolak
di antara selangkangan
yang menuntunya keluar istana
menanggalkan jubah kemuliaan
dan bertopeng hidung belang
menyusuri lorong lorong gelap nan pekat
untuk merenggut kehormatan
ibu kami
ibu pertiwi

kawan
lihatlah
kita sudah sedang hidup
di negeri tak bertuan
hampir setiap hari
darah mengalir
di bumi Cendrawasih
mungkin akan menyusul
di Maluku Selatan
dan  kembali berkecamuk
di bumi Serambi Mekah
lalu  tempat lain mengekor


kepada matahari
bintang dan rembulan
kisahkan perihal derita kami
kepada zaman dan musim catatlah tanya kami:
bilamanakah akan datang mesias,
sang pembebas?

sungguh kawan
aku tidak ingin menyaksikan
peristiwa yang sangat mengerikan itu:
bellum omnia contra omnes
(perang semua melawan semua)


Makassar, 25 Nov.2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar