23/11/11

Berpacu Dengan Waktu


  Refleksi Akhir Tahun

“tempora mutantur et nos mutanmur in illis”
Waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya

Menunggu atau mengejar  waktu  merupakan dua suku kata yang sering membentur-bentur  dalam ruang kepala saya dengan tanya, ketika hendak meraih sesuatu, entah dekat, entah jauh di depan saya. Pertanyaan itu terus menerus mengusik dan mendesak untuk segera mendapat jawab dan sering memaksaku agar  segera menjatuhkan pilihan antara ‘menunggu’ atau ‘mengejar’.
Well, kita tahu bahwa dua suku kata tersebut memiliki maknanya masing-masing sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan.  Baik ‘menunggu’ maupun ‘mengejar’ sama-sama ada plus minus-nya. Tanpa harus menangguhkan kedua makna kata tersebut, sekaligus kekurangan dan kelebihannya masing-masing, saya memahaminya demikian: “Menunggu” mengandaikan sesuatu yang akan segera datang atau segera tiba. Sesuatu itu entah orang, entah benda, entah nasib, entah cinta, dan segala macam entah (pokoknya sesuatu banget gitu). Dan sesuatu yang akan segera tiba itu sudah barang tentu terlebih dahulu berada dalam sebuah proses. Seperti misal, menunggu atau menantikan kedatangan seseorang, tentu sudah ada proses interaksi lewat sebuah perjanjian tertentu dalam waktu yang telah ditentukan pula. Atau menantikan tiba musimya menuai mengandaikan bahwa sudah terlebih dahulu atau pernah ada sebuah proses menabur. Maka perihal menunggu dalam pola ini dapat berarti  menantikan saat yang tepat untuk bertindak. Dalam proses ini sudah barang tentu sarat akan akurasi dan kalkulasi matematis. Bagai seorang pemanah yang hendak memanah seekor kijang yang sedang berlari kencang. Perhitungan waktu, jarak dan kecepatan menjadi titik acuan.
Namun di sisi lain, menunggu juga adalah ketika menantikan sesuatu yang tidak pernah direncanakan terlebih dahulu. Kegiatan jenis ini lebih bersifat pasif atau lebih tepatnya disebut pasivitas (ini istilah saya sendiri). Dalam arti tidak melakukan sesuatu tetapi mengharapkan sesuatu itu akan segera datang. Dalam pola ini, secara prosentatif, hanya sebagian kecil membawa nasib baik. Dan sebagian besar menjadi penantian panjang tak berujung. Lantaran  sungguh di luar akal sehat bahwa tidak pernah menabur tetapi terus berharap akan tiba saatnya menuai. Mengharapkan sepenuhnya pada sentuhan halus dewi fortuna, bagiku adalah kesia-siaan belaka. Mengapa demikian? Karena hukum alam selalu sudah sedang berproses dan sang waktulah yang akan bertindak sebagai hakim agung, akan menentukan siapa yang telah berpartisipasi dengan baik, mengambil dan memanfaatkan setiap peluang yang ada dan siapa yang terhempas dan tergilas di dalam proses seleksi alam tersebut.
Maka pilihan kedua pun menjadi pertimbangan yang menarik: ‘mengejar’. Mengejar apa? Ya, mengejar apa saja dan siapa saja. Mengejar harta, mengejar wanita, mengejar cinta, mengejar hedonisme (kenikmatan), mengejar eudaimonia (kebahagiaan),  mengejar masa depan? Namun jawaban paling tepat bagi saya adalah mengejar waktu. Karena mengejar waktu sudah mencakup semua target buruan di atas.
Sedemikian pentingkah sang waktu sehingga menjadi target utama perburuan? Ya, tentu. Waktu meliputi segalanya. Namun masih banyak orang yang mengeluh karena tidak punya cukup waktu untuk sekadar menikmati segelas teh hangat dan sepotong roti atau singkong rebus pada pagi atau sore hari. Mereka selalu merasa ketinggalan kereta waktu sehingga harus bergegas mengejarnya. Namun demikian, mengejar tanpa henti pun sudah mengingkari hakikat kemanusiaan. Maka sinkronisasi antara keduanya: ‘menunggu dan mengejar’ akan lebih berdaya guna dan mencapai hasil yang maksimal ketimbang hanya salah satu porsi yang dimanfaatkan
Sebagai akhir kata, ada benang merah yang bisa ditarik dari catatan kecil ini adalah bahwa siapa yang berlari lebih cepat dan menyesuaikan diri dengan lajunya sang waktu, atau dengan lain kata, siapa lebih pandai dan cermat mengatur dan memanfaatkan waktunya sembari dipadu-satukan dengan menunggu saat yang tepat untuk bertindak dengan bijak, dialah penguasa situasi karena memiliki waktu yang cukup untuk melakukan apapun yang dikehendakinya.
Apakah saya bisa? Lalu bagaimana dengan anda? Semoga kita bisa, dan pasti kita bisa.
Maka mari kita menjadi penumpang terakhir tahun ini yang akan menghantar kita hingga ke pintu gerbang tahun 2012.
Selamat akhir tahun.


Makassar, 23 Nov. 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar