14/11/11

Pergi Untuk Kembali (1)

Sejak kuayunkan kaki melangkah pergi jauh darimu, tak berarti aku membencimu.
Dari ayunan langkah kaki yang ringan, pikiran yang jernih dan hati yang teguh lewat tatapan mata yang mantap menatap mimpi, aku sadar bahwa pada ketika itu kau pun tak tega melihatku lalu membiarkan kuberjalan sendirian.
Doamu, seperti juga kasihmu yang sepanjang jalan mengiring di setiap tapak-tapak jejak langkah, sembari hendak meluruskan jalan yang berliku dan ratakan yang berlubang, namun betapa besar keyakinanmu pada sakralnya doa-doamu, sesungguhnya engkau harus sadar pula bahwa aku bukanlah “sang jalan, kebenaran dan hidup”  sebagaimana yang dinubuatkan oleh para nabi, agar jalanNya dipersiapkan oleh sang rasul.
Aku hanyalah seorang musafir yang berkelana di padang kehidupan mencari makna di balik setiap peradaban yang kadang larut bersamanya, kadang pula menarik diri sekadar untuk mencerna dan memetik serupa apa sejatinya hidup itu. Dalam petualangan hidup yang sudah sedang berjalan itu, telah cukup banyak bersentuhan dan bersinggungan dengan berbagai bentuk dan rupa wajah serta ragam peristiwa yang melahirkan kisah-kisah kelam pun kisah-kisah ceria yang pada gilirannya menghantarku ke dalam sebuah kontemplasi dan permenungan panjang tentang mimpi-mimpi yang pernah kau tanamkan semasa kecil.
Pada ketika itu, dalam kesenyapan malam, di sebuah dusun  terpencil, aku lahir, lalu tumbuh dan belajar bersama alam tandus nan  gersang. Dalam pola dan situasi itu, engkau menaburkan benih-benih kearifan lokal dan menunjukkan kearifan alam dengan mengajakku mengunjungi ladang agar rajin dan cinta pekerjaan. Dalam dan melalui  cangkul, pacul, parang, tombak dan linggis, engkau mendidikku dengan harapan sederhana: bila nanti dalam pengembaraanku sebagai musafir, kelak aku harus kembali sebagai pemenang dalam pertempuran melawan zaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar