15/12/11

Anatara Ziarah dan Wisata

Pada keheningan pusat malam, di bawah langit gulita Jakarta yang enggan menyajikan taburan kerlap-kerlip sejuta bintang, selain dari celah awan dan kabut asap polusi kota, sang rembulan tampak malu-malu mengintip bumi. Ya, di langit malam Jakarta, bulan tampak egois. Serupa permata, ia bersinar hanya untuk dirinya sendiri. Di saat Pasar Rawasari hiruk pikuk para pedagang sayur dan buah untuk  menyongsong paginya, persis di teras samping kost kami, sambil menikmati segelas kopi asli Manggarai dan sebungkus rokok Sampoerna, saya dan kawan saya sembari menatap bulan kelabu, larut dalam obrolan santai seputar “Hardiknas” (bukan hari pendidikan nasional, tapi hari mudik nasional) menjelang Idul Fitri.
“Mudik hanyalah sebuah ‘ritual’ yang gak ada asal usulnya dengan agama Islam. Pun bukan warisan kebudayaan dari tempat di mana Quran diturunkan. Mudik hanya ada di Indonesia, terutama sangat kental di daratan pulau Jawa,” demikian kata kawan saya yang berasal dari Siduarjo, Jawa Timur ini mencoba merenungkan “hardiknas” yang cukup menyedot perhatian pemerintah. Menurutnya, mudik itu ada lantaran tiadanya lapangan kerja di daerah sehingga orang merantau ke kota-kota besar untuk mencari nafkah. Maka ketika tiba hari raya Idul Fitri, semua yang merantau akan pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Idul Fitri dan berlebaran bersama orangtua, sanak saudara dan tetangganya di kampung dan berziarah ke makam keluarga dan leluhurnya.
“Jadi, kapan kau akan bermudik ria ke kampung?” tanyaku seusai ia panjang lebar merunut kembali istilah mudik yang sudah membudaya di negeri ini.
“Kampung? Saya mau mudik ke kampung?” sontaknya dengan nada tanya yang menampakan berbaris-baris keningnya yang  kian  mengerut, meskipun usianya masih sangat belia untuk dibilang tua.
“Kau harus bersyukur kawan, karena masih punya kampung,” tambahnya lagi seusai sejenak ia merenung, “saya, sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Dulu, paling tidak saya masih punya kuburan mereka, kedua orangtua saya. Namun kini, apa? Saya kehilangan semuanya. Kuburan orangtua, rumah, sawah dan ladang, bahkan kampung saya sudah hilang ditelan lautan lumpur.
Sepanjang itu, hampir semalam suntuk, saya menjadi pendengar setianya menumpahkan segala rasa sesak di kalbunya. Sepanjang itu, dalam hati dan rasa, saya turut prihatin dan larut dalam dan anatara kesedihan dan kemuakan. Sepanjang itu pula, dalam kalbu dan sukma, saya mencatat dan mengingat kisah pilu sekaligus luapan amarah dan hujatan serta makian yang paling keji sekalipun seakan belum cukup tepat untuk dilontarkan terhadap Pak Menteri, Aburzal Bakrie, makhluk sang pemilik perusahaan Lapindo maut. Bahkan bila ada kesempatan, dia ingin menenggelamkan pak menteri ke dasar lumpur untuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya pada hari lebaran tahun ini.
Pada akhir penumpahan rasa itu, saya mengajaknya mengambil haluan, dari Sidoarjo ke NTT.
“Ya, saya memang harus bersyukur, karena masih punya kampung. Saya masih punya semuanya. Tapi, cepat atau lambat, saya dan semua orang yang ada di daerah saya akan mengalami nasib yang sama.” Kataku sembari membakar rokok terakhir.
“Kampungmu di mana?”
“Di Soe. Kau tahu Soe?” jawabku sambil tersenyum sekadar menguji pengetahuan geografisnya.
“Soe itu di Timor atau di Flores, atau di Sumba?” tanyanya.
“Di Timor.”
“Masuk Timor Leste?”
“Tidak, masuk Indonesia.”
Sejenak kami diam. Ia mengambil gelas, meneguk kopinya yang sedari tadi tak tersentuh. Kami menatap lagi sang rembulan yang makin condong di ujung langit barat sambil menghembuskan asap rokok penghabisan. Saya mulai menggambarkan tentang keadaan geografis di Indonesia bagian Timur, khususnya di NTT. Dia, yang lulusan SMU, datang ke Jakarta jadi buruh pabrik memang kurang pengetahuan secara geografis di Indonesia bagian Timur sehingga sering menyamakan begitu saja NTT dengan Ambon bahkan Papua. Dia pun kaget setelah tahu bahwa di NTT banyak pertambangan di sana. Keheranannya makin memuncak ketika dia tahu bahwa tambang illegal di NTT hampir sebanding dengan yang legal. Hutan-hutan menjadi gundul hingga hutan lindung pun diserobot sehingga timbul berbagai bencana. Ya, berbagai macam bencana yang ada di NTT merupakan anak dari perselingkuhan gelap antara pengusaha tambang dan pemerintah daerah.
“Tambang di mana-mana lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya,” selanya tiba-tiba memotong penjelasan saya.
“Karena itu, kami orang NTT di Jakarta membentuk ormas-ormas kecil dan bersinergi dengan ormas-ormas lain dan para aktivis lingkungan untuk menentang atau minimal mengajak pemerintah daerah mengkaji ulang kegiatan aktivitas tambang di sana. Namun kami seperti menabrak tembok. Sangat kuat kekuasaan penguasa di sana. Mereka mampu membelah masyarakat menjadi dua kubu sehingga sering terjadi konflik antar masyarakat sendiri.” Jelasku panjang lebar.
“Ya, Insya Allah tidak terjadi seperti di Sidoarjo, Kampung saya. Saya udah gak bisa pulang kampung karena memang udah gak ada kampung. Pengen sih pulang untuk ziarah ke makam orangtuaku, tapi Siduarjo udah jadi tampat wisata lumpur. Jadi ke sana ya, antara mau ziarah atau mau wisata,” selorohnya sambil tertawa kecil.
“Ya, semua juga pasti tidak ingin kampung halamannya disulap jadi tempat wisata yang menyakitkan. Di mana-mana orang berwisata itu menyenangkan, bukan menyakitkan..haha,” balasku ikut tertawa.
Tak terasa sang rembulan mendahului kami memasuki peraduannya. Tampak langit malam Jakarta tanpa hiasan bintang dan cahaya kelabu sang rembulan. Kami pun beranjak meninggalkan setumpuk puntung Sampoerna dan ampas kopi Manggarai menuju kamar masing-masing untuk menyudahi malam itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar